Posted by: senjatakata on: 14 Januari 2009
PEREMPUAN berjilbab biru itu meratap. Bersimpuh di atas aspal, memeluk erat bayi berbalut kafan yang berlumuran darah. Beberapa menit sebelumnya, dipayungi awan gelap menjelang azan salat Jumat, ia berlarian bersama tujuh warga lain mencari selamat dari ‘mortil’ Israel yang merazia nyawa.
Tak jauh dari perempuan bergamis hitam itu, seorang pemuda juga larut dalam duka. Dia memeluk erat jasad sejawat yang bermandi darah. Siang itu, dari tujuh warga, empat di antaranya merenggang nyawa. Sementara ratusan orang lainnya, berteriak histeris, “Allahu Akbar…Allahu Akbar! ” Baca entri selengkapnya »
Posted by: senjatakata on: 6 Januari 2009
Pria berambut cepak itu inap di balai belakangan rumah sewa Irwandi Yusuf di Lampriet, Banda Aceh. Rencananya, ingin membicarakan soal helikopter miliknya dan meminta bantuan gubernur. Namun ajudan Irwandi hanya menjawab, “tidak ada anggaran.”
Warga Desa Lhee Meunasah, Gampong Aree, Pidie, itu tak lantas menyerah. Berulang kali dalam berbagai kesempatan dia menjelaskan pada sang ajudan, “Saya tidak minta uang tapi minta pembinaan.” Baca entri selengkapnya »
Posted by: senjatakata on: 2 Januari 2009
LAKI-LAKI berlilit sal itu tercenung. Tak biasa, Afifah menyergapnya saat bermenung. “Selamat ulang tahun ayah!” ujar bocah tujuh tahun itu. “Cepat sembuh ya, biar bisa kerja lagi.”
“Ini untuk ayah!” murid kelas tiga sekolah dasar itu menjulurkan bungkusan mungil berbalut poster. Isi bungkusan itu, hanya kue bawang dan kacang. Namun, nyaris tak ada kata yang meluncur dari mulut sang ayah. Ia hanya mendekap erat buah hatinya. Baca entri selengkapnya »
Posted by: senjatakata on: 31 Desember 2008
Posted by: senjatakata on: 28 Desember 2008
The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 07/12/2003 4:30 PM | Opinion
Maimun, Chief Editor, ‘Beudoh’ Weekly, Banda Aceh
Only tears and prayers accompanied Jamaludin, 30, the cameraman of state television station TVRI, on his journey home to his Creator. Discovered about a month ago on the banks of the Lamnyong River, Banda Aceh, only a few meters away from our office of the Beudoh (Awaken) tabloid, the traces of torture on his body left a chilling message, particularly for fellow journalists.
News of his death came while journalists were barely coping with new restrictions on covering the war in Aceh through the censorship measure of Presidential Decree No. 43/2003. Baca entri selengkapnya »
Posted by: senjatakata on: 26 Desember 2008
Lima anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Aceh Tengah tewas dibakar massa, satu lainnya dilempar ke sumur. Ada yang ingin merusak perdamaian.
AWALNYA adalah Bedul alias Abdul Razak. Pria 30 tahun itulah yang datang membawa proposal berujung sengit. Dia anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Linge, Aceh Tengah. Komite itu wadah bekas tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah perdamaian Aceh diteken tiga tahun silam.
Selepas perang, Bedul tak punya keterampilan. Dia dan kawan-kawan seperjuangan lantas melirik terminal bus di Takengon. Pikirnya, kalau dikelola baik, tentu tempat itu bisa jadi kolam rezeki. Apalagi, setelah damai, mereka belum punya pekerjaan tetap. Lalu, Bedul pun menyusun struktur pengelolaan terminal itu. Tentu, sifatnya tak resmi.
Meski membangun organ informal, Bedul serius juga. Struktur baru itu dibagikan ke para sopir, bahwa ada “bos” baru di terminal itu. Tembusannya pun dikirimkan ke Dinas Perhubungan setempat. Tak lupa selembar buat Bupati Aceh Tengah.
Komentar