<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Senjatakata's Blog</title>
	<atom:link href="http://senjatakata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://senjatakata.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Feb 2009 05:05:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='senjatakata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Senjatakata's Blog</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://senjatakata.wordpress.com/osd.xml" title="Senjatakata&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://senjatakata.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menangguk Laba di Keruh Gaza</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/14/menangguk-laba-di-keruh-gaza/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/14/menangguk-laba-di-keruh-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jan 2009 06:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[PEREMPUAN berjilbab biru itu  meratap. Bersimpuh di atas aspal, memeluk erat bayi berbalut kafan yang berlumuran darah. Beberapa menit sebelumnya, dipayungi awan gelap menjelang azan salat Jumat, ia berlarian bersama tujuh warga lain mencari selamat dari &#8216;mortil&#8217; Israel yang merazia nyawa. Tak jauh dari perempuan bergamis hitam itu, seorang pemuda juga larut dalam duka. Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=100&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PEREMPUAN berjilbab biru itu  meratap. Bersimpuh di atas aspal, memeluk erat bayi berbalut kafan yang berlumuran darah. Beberapa menit sebelumnya, dipayungi awan gelap menjelang azan salat Jumat, ia berlarian bersama tujuh warga lain mencari selamat dari &#8216;mortil&#8217; Israel yang merazia nyawa.</p>
<p>Tak jauh dari perempuan bergamis hitam itu, seorang pemuda juga larut dalam duka. Dia memeluk erat jasad sejawat yang bermandi darah. Siang itu, dari tujuh warga, empat di antaranya merenggang nyawa. Sementara ratusan orang lainnya, berteriak histeris, &#8220;Allahu Akbar&#8230;Allahu Akbar! &#8220;<span id="more-100"></span></p>
<p>Peristiwa itu terjadi sepekan setelah serangan Israel ke Palestina. Bukan di Jalur Gaza, melainkan persis di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Itu hanya aksi teaterikal kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS), yang meluapkan amarah dengan melakonkan derita korban perang Gaza, Palestina.</p>
<p>Sejatinya, sepekan serangan Israel telah merengut 435 nyawa. Di antaranya 75 anak dan 21 perempuan. Setidaknya itu yang berhasil dirangkum kantor berita Agence France-Presse (AFP), dari 700 kali serangan Israel.</p>
<p>Aksi lalu dilanjutkan dengan serapah. Bergiliran petinggi partai, para legislator, mahasiswa dan ulama berorasi. Isi orasinya hanya tiga; mengutuk Israel dan sekutunya, seruan &#8216;bersedakah&#8217; untuk warga Gaza dan imbauan menggalang doa.</p>
<p>&#8220;Masyarakat Palestina telah menunjukkan simpati ke Aceh saat tsunami. Sepantasnya masyarakat Aceh menyumbang dana dan doa,&#8221; ujar Nasrul Wahdi, Wakil Sekretaris Umum, DPW PKS.</p>
<p>Teungku Faisal Ali, Sekretaris Jenderal Himpunan Ulama Dayah Aceh (Sekjen HUDA), tak kalah berapi-api dengan orator lain. Pada masa aksi, berulang-ulang dilafalkan bahwa perlakuan Israel terhadap rakyat Gaza sebagai kekejian yang tak terampunkan.<br />
&#8220;Israel mengingkari hukum humaniter tentang perlindungan perempuan dan anak, warga Islam wajib berdoa mengutuk Yahudi,&#8221; tegasnya dengan tangan tergepal menunjuk langit.</p>
<p>Mendung mulai sirna, kala demonstran merasa tak cukup sekadar mengumpat. Pemain &#8216;sandiwara&#8217; yang sebelumnya berpura-pura tewas juga telah kembali dalam barisan. Tidak diam. Melainkan melempar bendera Israel dengan sepatu, meludah bahkan menginjak-injak.</p>
<p>Lalu, bendera dibakar. Saat bunga api menjalar di kain putih bergambar &#8216;bintang daud&#8217; berwarna biru itu, spontan beberapa pendemo melompat garang. &#8220;Saya puas. Seakan telah menghancurkan Israel,&#8221; ujar Nuridawani, seorang perempuan yang membakar bendera.</p>
<p>Selain berunjukrasa, para demontran juga menggalang rupiah. Niatnya, disalurkan untuk korban perang di Palestina. Hasilnya Rp 44,9 juta, sebuah jam tangan dan emas seberat 3,3 gram. &#8220;Pengumpulan dana dilakukan hanya dalam waktu sejam,&#8221; jelas Nadhira, seorang pendemo.</p>
<p>Serupa hobi yang baru tumbuh, bakar bendera Israel jadi trend di Aceh. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Aceh, pelakon pertama. Tiga hari jelang tutup tahun lalu, mereka menyerbu kantor perwakilan PBB di Jalan Sudirman, Banda Aceh.</p>
<p>Sempat terjadi ketegangan antar mahasiswa dan petugas keamanan. Pasalnya, baru saja sampai, mahasiswa sudah menggoyang-goyang pagar kantor PBB yang mengurus rekonstruksi Aceh usai gelombang raya itu. Tak ayal, sejumlah pekerja tampak panik.<br />
&#8220;PBB tak mengeluarkan kebijakan apapun terhadap Israel yang jelas-jelas telah menyengsarakan rakyat Palestina, Amerika juga selalu mendukung kebijakan Israel dan PBB selalu tunduk pada Amerika,&#8221; kata Basri Efendi, Ketua KAMMI Aceh.</p>
<p>Usaha Basri mendorong PBB bertindak, tak membuahkan hasil. Seorang staf badan dunia itu menyatakan, kantornya tidak memiliki wewenang menampung aspirasi politik penolakan serangan Israel ke Palestina. Buntutnya, mahasiswa luapkan murka dengan membakar bendera. &#8220;Ini solidaritas kami terhadap nasib rakyat Palestina!&#8221; tegas Basri.</p>
<p>***<br />
&#8220;BIADAB…biadab…biadab!&#8221;<br />
Cerca itu terus diucapkan massa, seraya mengarak keranda sambil mengayun langkah. Matahari masih mengizinkan Dhuha, kala spanduk dan poster turut dibawa serta ke Masjid Raya Baiturrahman. Semuanya bertuliskan, &#8220;aksi damai ganyang Israel.&#8221;</p>
<p>Sepagi itu, puluhan orang berkumpul di masjid terbesar seantero Aceh tidak untuk menunaikan kifayah. Sebab, keranda berbalut kain hitam yang diusung, hanya mainan. Para aktivis Hisbut Tahrir tersebut hanya mengumpat. &#8220;Biadab serangan Israel ke Rafah di Selatan Gaza,&#8221; sorak massa saat meninggalkan Masjid Al Makmur, Lampriet, Banda Aceh.</p>
<p>Dalam barisan turut sejumlah politisi papan atas Aceh dari Partai berbasis Islam, di antaranya Ghazali Abbas Adan dan Ameer Hamzah. Tak cuma politisi, ulama juga ada. Bila dalam &#8216;shaf&#8217; massa aksi PKS turut HUDA, bersama Hizbut Tharir, ada Ar-Rahman Kaoy, anggota Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU). &#8220;Kita harus meningkatkan ukhuwah islamiah,&#8221; kata Ghazali.</p>
<p>Maraknya unjukrasa anti Israel, disikapi dingin pemerintahan Aceh. Muhammad Nazar, wakil gubernur, justru berpandangan sederhana. Keruhnya Jalur Gaza, justru berpotensi laba bagi politisi menjelang pemilu mendatang.</p>
<p>&#8220;Banyak sekarang demo dan pengiriman pasukan jihad oleh partai politik. Misinya, mencari simpati rakyat menjelang pemilu. Jadi jangan terlalu naif,&#8221; ungkap politisi Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA) itu. Begitukah?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=100&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/14/menangguk-laba-di-keruh-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Capung Metic Bertenaga Hijet</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/06/capung-metic-bertenaga-hijet/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/06/capung-metic-bertenaga-hijet/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 20:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Pria berambut cepak itu inap di balai belakangan rumah sewa Irwandi Yusuf di Lampriet, Banda Aceh. Rencananya, ingin membicarakan soal helikopter miliknya dan meminta bantuan gubernur. Namun ajudan Irwandi hanya menjawab, “tidak ada anggaran.” Warga Desa Lhee Meunasah, Gampong Aree, Pidie, itu tak lantas menyerah. Berulang kali dalam berbagai kesempatan dia menjelaskan pada sang ajudan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=96&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pria berambut cepak itu inap di balai belakangan rumah sewa Irwandi Yusuf di Lampriet, Banda Aceh. Rencananya, ingin membicarakan soal helikopter miliknya dan meminta bantuan gubernur. Namun ajudan Irwandi hanya menjawab, “tidak ada anggaran.”</p>
<p>Warga Desa Lhee Meunasah, Gampong Aree, Pidie, itu tak lantas menyerah. Berulang kali dalam berbagai kesempatan dia menjelaskan pada sang ajudan, “Saya tidak minta uang tapi minta pembinaan.” <span id="more-96"></span></p>
<p>Pembinaan yang diharapkan Syarifuddin M Jamil, pria yang ngotot bertemu Irwandi itu memang ganjil, berkaitan dengan proses pembuatan capung besi. Ia gagal pula meyakinkan sang ajudan bahwa saat ini sedang membuat helikopter. “Ajudannya bilang saya harus buktikan dulu,” kata Syarifuddin ihwal upayanya bertemu orang nomor satu di Aceh.</p>
<p>Syarifuddin M Jamil, pekerja bengkel itu, akhirnya menyerah. Irwandi tak berhasil ditemui. Ironisnya, ia sudah sepekan menanti. Walau begitu ia tak patah arang. Baginya tak ada pilihan selain kembali ke Beureunuen, Pidie, melanjutkan pembuatan helikopter.</p>
<p>Soal heli, Syarifuddin tak membual. Sejak tiga tahun lalu, dia sudah memulai pembuatannya. Rangkanya telah selesai. Bentuknya menyerupai helikopter jelis PUMA, buatan Amerika. Pria kelahiran 30 tahun silam itu, merakit rangka dari besi yang sering digunakan untuk ranjang.</p>
<p>Heli yang diberi nama <em>Aneuk Glueh</em> ini panjangnya lima meter, lebar 1,20 meter. Dirancang berpenumpang empat orang, tapi pria yang hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMP ini mengubahnya hanya berkursi untuk pilot saja. “Saya bawa sendiri sebab orang tidak berani naik,” katanya.</p>
<p>Untuk mengangkat <em>Aneuk Glueh</em> yang memiliki bobot 300 kilogram ini, Syarifuddin memasang sepasang mesin mobil Daihatsu Hijet 1000 bekas yang dibelinya seharga Rp 1,5 juta, persis di bagian belakang ruang pilot. Tapi akibat tak cukup duit, dia baru memasang satu.</p>
<p>Mesin Hijet itulah yang bakal menggerakkan baling-baling ganda. Kelak, kipas gergasi yang terbuat dari fiber, dipasang di ekor dan kepala capung. Di ekor, gerdang yang juga dari mobil bekas, sudah terpacak menanti baling-baling. Syarifuddin, butuh satu gerdang lagi untuk di bagian depan.</p>
<p>Dari ruang pilot bagian bawah, telah melintang sebilah besi. Walau tak melingkar, fungsinya persis stiur mobil. Bedanya, arah roda dikendalikan dengan kaki. Untuk mengendalikan baling-baling, dipasang besi vertikal menyerupai tuas. Agar putaran baling-baling bergerak selaras antara depan dan belakang, digunakan rotor di ujung gerdang.</p>
<p>Uniknya pengontrol daya sembur energi yang dimunculkan mesin, digunakan <em>speedo</em>-meter yang biasa digunakan sepeda motor Yamaha. Di ruang kemudi juga telah ada tombol untuk menghidup dan mematikan mesin. “Heli metik, semua difungsikan tidak manual,” kata Syarifuddin tersenyum.</p>
<p><em>Aneuk Glueh</em> disimpan di bengkel Pasir Murni, Meunasah Baro Yaman, hanya sekitar lima meter dari lintasan Banda Aceh-Medan. Tak jelas kapan rangka itu akan diuji coba. Menurut Syarifuddin, bila semua perlengkapan telah ada, dia hanya butuh waktu sebulan lagi untuk menyelesaikan proyek impiannya itu. Masalahnya, hingga kini ia masih kekurangan satu mesin, gerdang dan baling-baling. Syarifuddin memperkirakan ia masih butuh Rp 10 juta lagi.</p>
<p>Sejauh ini, <em>Aneuk Glueh</em> sama sekali tak tersentuh sedekah siapapun. Untuk menggalang dana, Syarifuddin tak bergerilya di instansi pemerintah dengan segepok proposal. Ia justru memilih ke Malaysia, negara yang diyakini ‘tambang uang’. Tak hanya nekat modalnya, tapi juga kemahiran otak-atik mesin.</p>
<p>Untungnya di Stasion Tujuh, Syah Alam, ada warga sekampungnya yang sudah duluan merantau. Di sana ia tak hanya numpang tinggal, tetapi juga bekerja di bengkel selama sebulan. “Di situ gajinya 600 ringit,” kenangnya.</p>
<p>Petualangannya mengumpulkan uang awal tahun 2005, dilanjutkan di kawasan Taman Sara di Sungai Pencala. Lagi-lagi menjadi teknisi bengkel. Lima bulan bekerja di bengkel terakhir, dia kembali ke Aceh. “Saya bawa pulang uang dari Malaysia bersih sekitar Rp 13 juta,” kata Syarifuddin. “Habis semua untuk heli.”</p>
<p>***</p>
<p>MEMBUAT helikopter bertenaga mesin mobil seperti dilakukan Syarifuddin, bukan mimpi siang bolong. Usaha serupa pernah dilakukan mahasiswa Fakultas Fisika Universitas Bayero di Kono, Nigeria, tahun lalu.</p>
<p>Muhammad Abdullahi, 24 tahun, menciptakan helikopter bermesin mobil Honda Civic bekas. Mesin berkuatan 133hp mampu menerbangkan helikopter setinggi dua meter. Muhammad membutuhkan waktu delapan bulan untuk merakit heli sepanjang 12 meter, tinggi 7 meter dan lebar lima meter itu.</p>
<p>Helikopter Muhammad berkapasitas empat penumpang. Kursinya terbilang nyaman, dia memasangkan kursi mobil sedan Toyota. Muhammad sudah menerbangkan heli itu enam kali.</p>
<p>Tapi Muhammad sedikit lebih beruntung. Walau tak didukung pemerintah, namun ayahnya yang berprofesi sebagai dosen di universitas yang sama, mendukungnya dengan menyuntik bantuan dana.</p>
<p>Bila Muhammad yang menyusun konsep helinya dengan membaca buku dan berselancar di internet, Syarifuddin justru hanya mengandalkan penglihatan. Ceritanya, pria ini sering melihat helikopter wara-wari di langit Aceh setelah tsunami menerjang. Agar tak hilang di ingatan, ia menggambarkannya di kertas. “Kalau baca buku, saya nol,” kata Syarifuddin. &#8220;Kalau suruh terangkan heli ini saya mengerti.&#8221;</p>
<p>Niat membuat helikopter sendiri sudah muncul sejak duduk bangku sekolah dasar. Seusia itu, dia telah mencopot mesin mobil mainan. Lalu, dipasangkan di helikopter mainan yang dibuatnya sendiri dari pelepah rumbia.</p>
<p>Tahun 1990, keseriusan Syarifuddin membuat heli sudah terlihat. Walau masih menimba ilmu di bangku sekolah menengah pertama, sepulang sekolah ia bekerja di kilang padi. Uangnya ditabung untuk membeli mesin mobil kijang. Namun, ia tak punya cukup nyali melanjutkan proses pembuatan rangka. “Waktu itu kan DOM (Daerah Operasi Militer), saya takut dituduh macam-macam,” katanya.</p>
<p>Enam tahun kemudian, Syarifuddin kembali membeli mesin mobil bekas. Sayang sejarah berulang, keinginannya terpaksa kembali harus dipendam. Kondisi keamanan menciutkan nyalinya. Mesin mobil yang sudah dibeli terpaksa dijual kembali.</p>
<p>Inilah usahanya yang terakhir. Bagi warga sekitar, <em>Aneuk Glueh</em> merupakan bukti kegilaan Syarifuddin. Warga beranggapan heli itu tidak bakal terbang. Bahkan ia sering mendapat celaan. “Saya sering dibilang gila,” katanya. “Tapi saya jawab, saya memang gila, gila ilmu.”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/96/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/96/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=96&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/06/capung-metic-bertenaga-hijet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penakluk Kursani</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/02/penakluk-kursani/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/02/penakluk-kursani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 02:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[LAKI-LAKI berlilit sal itu tercenung. Tak biasa, Afifah menyergapnya saat bermenung. “Selamat ulang tahun ayah!” ujar bocah tujuh tahun itu. “Cepat sembuh ya, biar bisa kerja lagi.” “Ini untuk ayah!” murid kelas tiga sekolah dasar itu menjulurkan bungkusan mungil berbalut poster. Isi bungkusan itu, hanya kue bawang dan kacang. Namun, nyaris tak ada kata yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=94&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">LAKI-LAKI berlilit sal itu tercenung. Tak biasa, Afifah menyergapnya saat bermenung. “Selamat ulang tahun ayah!” ujar bocah tujuh tahun itu. “Cepat sembuh ya, biar bisa kerja lagi.”<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Ini untuk ayah!” murid kelas tiga sekolah dasar itu menjulurkan bungkusan mungil berbalut poster. Isi bungkusan itu, hanya kue bawang dan kacang. Namun, nyaris tak ada kata yang meluncur dari mulut sang ayah. Ia hanya mendekap erat buah hatinya. <span id="more-94"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kulit kado bergambar pria mengenakan mantel, bertopi koboi menjunjung samurai menghadap <em>pinto</em> <em>khop</em> itu membuatnya tersanjung. Itu poster iklan VCD <em>Seuni Daboh</em> (debus-red) yang Ia mainkan. “Itu cara saya agar generasi muda Aceh tidak lupa seni daboh,” kata Yun Casalona, sambil merapatkan kembali jaketnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Perayaan ulang tahun ala Afifah dilanjutkan dengan menyanyi. Walau tak ada lilin dan kue tar, anak semata wayangnya itu melantunkan lagu selamat ulang tahun dengan riang. Sayangnya, kegembiraan tak berlangsung lama, dering handphone membuyarkan pesta ulang tahun.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Telpon dari kantor disuruh ke kantor ambil </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">surat</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> PHK,” kata seniman debus papan atas Aceh itu. “Lebih enam bulan sudah saya tak aktif, kantor tak bisa terima itu.”<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sejak tubuhnya digempur infeksi paru, pembengkakang tulang belakang, diabetes, kornea bola mata sampai asam lambung memang Yun Casalona tak lagi bekerja dan berkesenian. Hari-harinya, lebih banyak dipakai bermenung di beranda rumah, Blower-Banda Aceh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">***</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">DARAHKU batu</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">uratku kawat</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">tulangku besi</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">kulitku baja</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Itu bukan pengalan puisi biasa. Empunya melafalkan saban samurai, gergaji atau kampak akan menyayat tubuhnya. Dalam batin, puisi itu menyusul ayat kursi. Jauh sebelum drum, gitar elektrik dan rapai bersahut-sahut mengiring tubuh yang diiris dan tebas senjata tajam.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tapi Mei itu tak lazim. Ia telah melafatkan ragam ayat suci dengan sempurna. Tak ada sebilah senjatapun melukai. Namun, laki-laki berbadan tegap itu tak menunjukkan atraksi kampak membelah dirinya pada penonton yang memadati lapangan Karang Rejo, Bireun.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Tubuh saya tak tahan lagi, saat turun pentas saya jatuh di tangga,” kata Yun Casalona, pemilik puisi <em>hue</em> itu. “Saya memang mulai sakit sejak sebulan sebelumnya.”<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lepas itu, Ia tidak memilih rehat panjang. Pria asal Meulaboh, Aceh Barat itu malah kembali ke pangung. Di Desa Arafah, Banda Aceh, Yun kembali menunjukkan atraksi debus. “Terlanjur teken kontrak,” tukasnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ia tidak menyangka pementasan akhir dalam Konser Damai Aceh itu menjelma menjadi petaka. Segala jenis penyakit yang mendekam dalam tubuhnya mendadak kambuh.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Seminggu saya berobat di rumah, sembilan malam menginap di rumah sakit Harapan Bunda-Banda Aceh,” jelas Yun.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di rumah sakit, Ia mengira hanya kurang darah. Tapi dokter merasa panas-dingin yang mendera tidak biasa. Salah seorang dokter malah memperkirakan pria kelahiran 3 Agustus-43 tahun silam itu terjangkit virus paling popular abad ini. “Di rumah sakit, dokter perkirakan saya kena flu burung,” jelasnya sambil mencoba terbahak.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sakit yang mendera tak membaik. Gelumbung di tulang belakang yang awalnya dikira bisul kian membesar. Sampai akhirnya, pemain debus rock yang juga penyair ini terpaksa tidur telungkup.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Saya sudah pasrah. Sudah sering mengigau. Saya berkata pada istri saya, itu ada sedikit simpanan pakailah untuk biaya hidup dan sekolah anak,” Yun mengenang.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tapi istrinya tak pasrah. Ia kabarkan Yun sakit ke handai tolan dan kerabat. Sampai bulatlah tekad keluarga menerbangkan pemimpin teater kuala itu ke </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Malaysia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selama 40 hari berobat di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lamwahe</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hospital</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penang</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, sejawat seniman tak berhenti menjulur simpati. Bahkan Rafli penyanyi Aceh paling kesohor saat ini, mengelar konser amal untuk mengalang dana. Yun sendiri tahu itu dari tetangganya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Lebih 70 % biaya berobat itu uang dikumpulkan dari teman-teman seniman,” jelas Yun.</span><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">***</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“ANDAI saya menjadi robot</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">tidak perlu makan”</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di bawah bulat bulan saat gerhana hendak membalut langit beberapa waktu lalu. Yun, sadar Ia tidak menulis puisi dimasa rehatnya kini. “Mustinya saya tulis puisi robot itu ya?” Yun kembali mencoba terbahak.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Yun mengaku, juga tidak mengarap naskah drama saat ini. Tapi Yun, masih menyelipkan dua pisau silet dalam dompetnya. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mendadak</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> keluarkan. Lalu dipraktikkanya atraksi debus.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bagi Yun,<span> </span>puisi dan teater bagian dari hidupnya. Tapi, seni debus labuhan hatinya. “Seperti istri dan anak, sama-sama saya cinta,” katanya. Pemain debus sangat sedikit, berbeda dengan pegiat puisi dan teater. Itulah alasannya, kenapa Yun memilih debus sebagai kesenian utama yang digeluti.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selain itu, seni debus membuatnya semakin dekat dengan sang khalik. Menurutnya, pemain debus harus dekat dengan Allah. Jadi bukan rapai yang melindungi tubuh dari senjata tajam.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Tabuhan rapai hanya pengiring, yang melindungi tubuh ya Allah,” jelas Yun. Yakin itu Ia pun mempopulerkan debus dengan musik rock. Ia menampik, debus harus identik dengan rapai.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menurut Yun, melestarikan debus tidaklah mudah. Tidak semudah menjaring penyair dan pemain teater yang bisa direkrut dan berlatih terbuka. “</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> proses transfer keyakinan dari hati ke hati. Saya tidak tahu katakannya seperti apa,” jelas Yun.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Diam-diam</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ia</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> kini sedang mencari murid pewaris keahliannya. Pasalnya, kecemasan akan punahnya seni <em>daboh</em> di Aceh terus mengelayut dipikiran. Betapa tidak, amuk tsunami telah merengut beberapa seniman debus lainnya. “Ini seni warisan nenek moyang kita. Tidak boleh punah!” tegasnya.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sudah tiga anak muda yang menjadi kandidat, salah seorang diantaranya perempuan. Mereka lolos karena dianggap dekat dengan Allah dan tidak jumawah.<br />
</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">“Kemungkinan penerusnya perempuan. Tahu kenapa? Karena aura perempuan memainkan debus lebih memikat,” jelas Yun. Ia melilit sal, merapatkan jaketnya dan melempar pandang pada malam sendu,” saya ingin <em>daboh</em> tetap hidup!”</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=94&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2009/01/02/penakluk-kursani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/31/mati/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/31/mati/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2008 09:47:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Mati Telah mati<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=91&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mati<span id="more-91"></span></p>
<p>Telah mati</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=91&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/31/mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aceh: `Embedded or dead&#8217;</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/28/aceh-embedded-or-dead/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/28/aceh-embedded-or-dead/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Dec 2008 15:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[The Jakarta Post ,  Jakarta   &#124;  Sat, 07/12/2003 4:30 PM  &#124;  Opinion Maimun, Chief Editor, &#8216;Beudoh&#8217; Weekly, Banda Aceh Only tears and prayers accompanied Jamaludin, 30, the cameraman of state television station TVRI, on his journey home to his Creator. Discovered about a month ago on the banks of the Lamnyong River, Banda Aceh, only [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=85&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Sat, 07/12/2003 4:30 PM  |  Opinion<br />
Maimun, Chief Editor, &#8216;Beudoh&#8217; Weekly, Banda Aceh</p>
<p>Only tears and prayers accompanied Jamaludin, 30, the cameraman of state television station TVRI, on his journey home to his Creator. Discovered about a month ago on the banks of the Lamnyong River, Banda Aceh, only a few meters away from our office of the Beudoh (Awaken) tabloid, the traces of torture on his body left a chilling message, particularly for fellow journalists.</p>
<p>News of his death came while journalists were barely coping with new restrictions on covering the war in Aceh through the censorship measure of Presidential Decree No. 43/2003. <span id="more-85"></span></p>
<p>Journalists now assigned to Aceh have become quite familiar with the mental terror perpetrated against them, particularly when attending regular press conferences held by the military administration.</p>
<p>Then, there is the bureaucratic procedure involved in obtaining press cards issued by the martial law authorities, an act that indirectly contradicts Article 4 of Law No. 40/1999 on press freedom &#8212; though indeed the authorities would cite their legal rights based on the 1959 law on martial law.</p>
<p>Those covering Aceh are also continuously challenged with accusations on being partial to either warring party, while they might have intended to side with humanitarian concerns.</p>
<p>One example is how Free Aceh Movement (GAM) members reportedly chased a reporter of the private television station TV7 just because GAM was not happy with what they called pro-Indonesian Military (TNI) coverage. For the same reason, the cameraman of another private television station Metro TV, among those embedded with the TNI, became target practice.</p>
<p>The warring parties know full well that the key to victory depends not only on the weapons but also on public opinion &#8212; which is why in Aceh journalism is restrained and interfered with and reporters and editors are harassed and intimidated in a bid to control public views.</p>
<p>Press members in Aceh also face the daily challenge from their editors who demand &#8220;exclusive&#8221; reports, while they must also save their skins. Hence the option of being &#8220;embedded&#8221; with the TNI, although journalists are noncombatants.</p>
<p>Embedded journalism is a new phenomenon in Aceh. With dozens of journalists embedded with the TNI, the result has been the stigmatizing of journalists opting to be &#8220;embedded&#8221; with GAM, as in the case of American journalist William Nessen. Restrictions were tightened on the press following the knowledge that he was in a GAM hideout.</p>
<p>So far, embedded journalism has shown us what we sacrifice in a bid to gain &#8220;exclusive&#8221; reports. Under mutually beneficial conditions we may gain such reports, while the military acquires many opportunities to control public opinion &#8212; not to mention what becomes of the perspective of victims themselves, the civilians trapped in the war.</p>
<p>It is thus urgent to decide whether embedded journalism should remain an option in covering the Aceh war.</p>
<p>There must at least be an effort to find a way to ensure that journalists can maintain a role toward peacemaking in Aceh.</p>
<p>Another obstacle to the press trying to do its job has been the term &#8220;nationalism&#8221;. The martial law administration in Aceh regularly preaches &#8220;nationalism&#8221; to journalists assigned in the province.</p>
<p>If the military seeks the cooperation of the media in defending the integrity of the unitary state, it is enough for the TNI to let journalists do just what they are supposed to do. We cannot be forced to make the choice of &#8220;be embedded or dead.&#8221; The endeavor to produce objective, balanced and valid reports is above everything else.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=85&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/28/aceh-embedded-or-dead/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bermain Api di Takengon</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/bermain-api-di-takengon/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/bermain-api-di-takengon/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 15:47:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Lima anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Aceh Tengah tewas dibakar massa, satu lainnya dilempar ke sumur. Ada yang ingin merusak perdamaian. AWALNYA adalah Bedul alias Abdul Razak. Pria 30 tahun itulah yang datang membawa proposal berujung sengit. Dia anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Linge, Aceh Tengah. Komite itu wadah bekas tentara Gerakan Aceh Merdeka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=44&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em>Lima anggota Komite Peralihan Aceh wilayah Aceh Tengah tewas dibakar massa, satu lainnya dilempar ke sumur. Ada</em> <em>yang ingin merusak perdamaian.</em></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">AWALNYA adalah Bedul alias Abdul Razak. Pria 30 tahun itulah yang datang membawa proposal berujung sengit. Dia anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Linge, Aceh Tengah. Komite itu wadah bekas tentara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah perdamaian Aceh diteken tiga tahun silam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Selepas perang, Bedul tak punya keterampilan. Dia dan kawan-kawan seperjuangan lantas melirik terminal bus di Takengon. Pikirnya, kalau dikelola baik, tentu tempat itu bisa jadi kolam rezeki. Apalagi, setelah damai, mereka belum punya pekerjaan tetap. Lalu, Bedul pun menyusun struktur pengelolaan terminal itu. Tentu, sifatnya tak resmi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Meski membangun organ informal, Bedul serius juga. Struktur baru itu dibagikan ke para sopir, bahwa ada “bos” baru di terminal itu. Tembusannya pun dikirimkan ke Dinas Perhubungan setempat. Tak lupa selembar buat Bupati Aceh Tengah.</p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-44"></span>Rupanya, ulah Bedul itu membuat para penguasa? lama terminal panas hati. Mereka adalah Ikatan Pemuda Terminal alias IPT. Di tempat itu, Ikatan sudah bercokol sejak 1978. Belakangan, urusan rupanya tak semudah perkara terminal belaka.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika Aceh dalam keadaan perang, IPT adalah organ yang mendukung misi Pembela Tanah Air (Peta) atau front aksi melawan separatisme. Front ini pula yang rajin memburu anggota GAM di kampung-kampung. Ada yang ditangkap, ada pula yang dibujuk agar menyerah. Tentu, TNI pada waktu itu mendukung mereka dengan sukacita karena sejalan dengan misi menghancurkan pemberontakan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Soal hubungan IPT dengan Peta itu pun sangat kentara. Ketua IPT, Muhammad Sanen, misalnya. Lelaki itu adalah tokoh Peta Kecamatan Bebesen, Takengon. Di terminal itu, ada sebuah plang nama terbaca jelas: IPT/Peta. Sanen rupanya merangkap juga Ketua Peta Bebesen. Tapi, “Itu hanya kebetulan saja,” ujarnya berkilah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Singkat kata, IPT pun menolak Bedul dan kawan-kawan terlibat dalam urusan terminal. Kalian kan sudah kaya, kata Win Ariano Putra, Wakil Ketua IPT, saat dua kelompok itu berunding, Jumat pekan lalu. Bedul mengelak. Dia bilang tak semua bekas GAM itu kaya, tapi Ariano tetap menolak berkongsi. Alasannya, laba di terminal itu tak lagi besar.</p>
<p class="MsoNormal">Cuma Rp 150 ribu. Sekarang ada 53 anggota IPT, ujarnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Situasi pun tegang, kedua pihak ngotot sebagai yang paling berkuasa. Ditengahi Kepala Dinas Perhubungan Aceh Tengah Zulkifli Rahmat, keduanya mencoba berembuk, Jumat pagi pekan lalu. Empat tokoh IPT datang, sementara dari KPA Wilayah Linge, enam anggota hadir. Tapi, dialog belum lagi dimulai, kerusuhanlah yang meledak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">IPT menuding anggota KPA sengaja membawa senjata tajam. Menurut versi mereka, bekas pejuang GAM itulah yang petantang-petenteng. “Mereka bilang, mau tembak siapa saja yang menantang,”ujar Ariano. Gara-gara itu, bentrok fisik pun terjadi. Buntutnya, tiga anggota KPA kabur, satu babak-belur.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Versi itu dibantah Ketua KPA Linge, Ramdana. Kata dia, hanya lima orang yang datang malam itu dan semuanya tidak bersenjata. Mereka juga tak mengancam siapa pun. Yang terjadi, kata Ramdana, justru sebaliknya. Saat berada di Dinas Perhubungan, ratusan personel IPT memenuhi gang-gang kantor itu. Sebetulnya, undangan itu datang dari</p>
<p class="MsoNormal">Polres dan Polsek Kota, plus Dinas Perhubungan, tapi aparat polisi tak tampak.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Cekcok mulut pun memuncak. Baku pukul terjadi dan polisi menangkap Ariano dan Hasballah, keduanya dari IPT. Sementara itu, tiga utusan KPA dilarikan ke rumah sakit Datu Beru, Takengon. Kabar itu sampai ke telinga Bupati Aceh Tengah Nasaruddin. Pada 2003, perdamaian di Aceh hancur gara-gara kantor pemantau keamanan bersama atau Join Security Council (JSC) dibakar massa Peta di Takengon. Karena itu, dia memilih lembur, mengundang kedua kelompok itu ke kantornya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Rapat damai itu dimulai setelah isya dan berlangsung sampai tengah malam. Yang hadir petinggi kedua organisasi, KPA diwakili Ikil Ilyas Leube, T. Muha Abubakar, Arjua Mansyur, Ilyas Kelowang, dan Abdul Razak. Sementara IPT dan Peta diwakili Muhammad Sanen, Abdullah Ali, Gurdy Damora, dan Misradi M.S. alias Adijan, yang terkenal sebagai ’bos’ Peta Kabupaten Bener Meriah. Dari pemerintahan setempat, hadir</p>
<p class="MsoNormal">Bupati Nasruddin dan perangkatnya. Sampai di sini aman: kedua pihak akhirnya sepakat berdamai. Tapi, begitu rapat kelar, tragedi yang mengancam perdamaian itu, justru terjadi di Meurah Mege, 30 kilometer dari Takengon.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Entah dari mana, dua truk penuh lelaki bertopeng membelah pegunungan Meurah Mege, Atu Lintang, Aceh Tengah, Jumat malam itu. Rata-rata menggenggam parang. Mereka lalu mendatangi rumah kepala desa dan meminta kaum lelaki di kampung itu ikut siskamling. Kampung sunyi yang dihuni 128 keluarga itu pun mendadak gaduh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Saat malam tambah larut, dua truk itu bersama ratusan massa mengepung kantor KPA di sana. Kantor itu tak besar dan berdinding kayu. Pada malam nahas itu, tujuh anggota KPA setempat berada di dalamnya. Massa menggedor pintu dan meminta mereka keluar. Para bekas gerilyawan itu hanya diam. Lalu, entah ide siapa, kantor itu pun diguyur bensin. Begitu api menyala, mereka yang di dalam pun keluar lintang-pukang.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di luar, mereka disambut kelewang dan parang. “Ada yang setengah mati, lalu dilempar ke api,” ujar seorang ibu yang rumahnya berseberangan dengan lokasi. Dia tak berani ikut campur, hanya melihat saja.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Seorang korban yang lolos dari kepungan api disergap sekelompok lelaki. Dia bernama Selamat, 28 tahun, anggota KPA Meurah Mege. “Saya orang sini,” ujarnya pasrah, seperti dituturkan keponakannya. Satu batu besar menghajar rahang sang paman. Selamat jatuh dan bungkam.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lalu perutnya dihujani tombak, tubuhnya disiram bensin, dan diseret ke api menyala. Dia tak lagi bergerak ketika api itu melalap tubuhnya. Keponakannya yang masih 12 tahun itu melihat semuanya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Polisi yang tiba di lokasi kalah banyak dengan massa. “Kami hanya sembilan orang,” kata Aiptu Irvan Lubis, Kapolsek setempat. Bantuan satu peleton polisi dari Takengon baru sampai esok harinya. Kepala Polres Aceh Tengah AKBP Kawedar menyatakan menerima laporan peristiwa itu dari pesan pendek di teleponnya sekitar pukul tiga dini hari. ”Tidak ada sinyal. Cuaca berkabut, jalanan rusak,” kata Kawedar soal pasukannya datang telat.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Empat jenazah ditemukan hangus. Mereka adalah Ramlan, 35 tahun, Sabri, 25 tahun, Selamat, 25 tahun, dan Gading. Di sumur sedalam 35 meter, Polisi menemukan satu mayat lain: Sejahtera Putra, 24 tahun. Kata seorang saksi, Sejahtera sempat masuk ke gorong-gorong untuk menyelamatkan diri. Namun, nahas, ia ketahuan lalu dilempar dalam sumur. Mayatnya baru bisa dievakuasi setelah tim Labfor dari Medan tiba di lokasi, Senin pekan lalu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Yang lolos dari maut adalah Suhandar, 27 tahun. Punggungnya tergores parang dengan tiga luka tetak di kepala. Dia dilarikan ke rumah sakit dengan pengawalan 11 polisi bersenjata lengkap. Tidak satu pun boleh menjenguknya kecuali atas izin Kepala Polres. Saksi hidup lainnya adalah Tega Sendi, 27 tahun. Dia kini disembunyikan aparat keamanan guna penyelidikan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sampai Jumat pekan lalu, polisi sudah menahan 16 orang tersangka dan memeriksa 32 saksi. Sebelumnya, polisi menahan lima tersangka, yaitu M. Sarjono, 29 tatun, Ahmad Zainuddin, 32 tahun, Giman, 32 tahun, dan Sumardi, 70 tahun. “Semuanya warga setempat,” kata Kawedar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Lalu, adakah hubungan insiden itu dengan cekcok di Takengon? Kawedar tak begitu pasti. Tapi dia mengatakan, dalam pemeriksaan para tersangka mengaku tak bisa menerima kehadiran kantor KPA di wilayah mereka, karena anggotanya suka memalak warga. Dia juga tak menutup kemungkinan peristiwa itu terkait dengan ribut-ribut soal terminal itu. Saat peristiwa berlangsung, massa IPT memang sedang terkonsentrasi di kantor bupati di Takengon. “Belum ada korelasi mendasar, tapi mereka ini saling kontaklah,” kata Kawedar.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Di Banda Aceh, juru bicara KPA Pusat, Ibrahim KBS, menyatakan berterima kasih kepada polisi yang berhasil menahan sejumlah tersangka. Kami yakin ada yang mau merusak perdamaian di Aceh, ujarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=44&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/bermain-api-di-takengon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Akhir Sebuah Tidur Sunyi</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/akhir-sebuah-tidur-sunyi/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/akhir-sebuah-tidur-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 14:31:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Sinterklas dari Prancis ingin menghidupkan jalur kereta Medan-Banda Aceh, yang sudah hampir 30 tahun ”tidur”. Sang pengatrol ekonomi telah datang. PADA sebuah gedung suwung—kosong dan senyap—perempuan itu bertahan. Hanya ada gelap di sana. Bilah-bilah papan dindingnya sudah keropos. Gentengnya penuh lumut dan sebagian sudah diganti dengan seng yang juga sudah karatan. Di tengah bangunan itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=41&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><em>Sinterklas dari Prancis ingin menghidupkan jalur kereta Medan-Banda Aceh, yang sudah hampir 30 tahun ”tidur”. Sang pengatrol ekonomi telah datang.</em></span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">PADA sebuah gedung suwung—kosong dan senyap—perempuan itu bertahan. Hanya ada gelap di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Bilah-bilah papan dindingnya sudah keropos. Gentengnya penuh lumut dan sebagian sudah diganti dengan seng yang juga sudah karatan. Di tengah bangunan itu, di sebuah loket reot, buruh cuci itu berumah dengan dua anak gadisnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">”Sudah dua tahun saya tinggal di stasiun ini,” kata Aminah. Di Stasiun Ule Lheu inilah—sekitar delapan kilometer dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh—janda berusia 55 tahun itu memulai dan mengakhiri hari-harinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Itulah senjakala kejayaan Stasiun Ule Lheu, yang pada masa Belanda menjadi landmark Banda Aceh seperti Stasiun Gambir di Jakarta. Pada 1874-an, stasiun ini berdenyut sepanjang siang dan menjadi pusat berbagai jalur kereta, dari luar maupun dari dalam Banda Aceh.<span id="more-41"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tapi, seabad kemudian (pada 1976), stasiun itu berhenti bernapas. Ia kalah bersaing dengan pembangunan jalanan dan mobil-mobil mewah. Gedung tua itu beralih jadi ”apartemen” untuk para pemulung sampah dan orang-orang kecil seperti Aminah, yang ongkos sewa ke aparat hanya Rp 20 ribu sebulan. Relnya hilang ditilap maling. Peronnya juga sudah bersalin rupa menjadi bengkel las.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Stasiun itu seperti punah sempurna saat gempa dan ombak gergasi datang pada Desember tahun lalu. Tak ada yang tersisa di </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">sana</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">. Kini, jangankan mencari bekas-bekas stasiun itu, menandai lokasinya saja sulit. Daratannya sudah menyatu dengan laut.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kisah perih Stasiun Ule Lheu dan berbagai stasiun kereta di Aceh inilah yang mengetuk perasaan para petinggi De Societe Nationale des Chemins de Fer Francais (SCNF) International, sebuah perusahaan pelat merah di Prancis yang mengurusi kereta api. Hanya tiga pekan setelah tsunami, bos kereta api Prancis, Jean Pierre Loubinoux, terbang ke Aceh dan menyodorkan proposal bantuan untuk menghidupkan jalur kereta di Aceh, bahkan terhubung sejauh 450 kilometer hingga ke Langkat, Sumatera Utara.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">”Ini 100 persen bantuan dari pemerintah Prancis, terkait dengan rekonstruksi Aceh,” kata Menteri Perhubungan Hatta Radjasa beberapa waktu silam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mei lalu, tim Prancis itu sudah melakukan studi kelayakan dan menyimpulkan: ”Potensi yang ada cukup untuk dikembangkan,” ujar Usman Budiman, Kepala Dinas Perhubungan Nanggroe Aceh Darussalam. ”September lalu, hasil studi sudah diserahkan ke pemerintah pusat.”<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kereta, kata Usman, akan menggerakkan roda perekonomian rakyat Aceh. Transportasi ini dinilai Usman cocok karena sepanjang lintas timur Aceh banyak perkebunan karet dan kelapa sawit. Di zaman Belanda, hasil perkebunan ini diangkut dengan kereta api. Namun, jalur ini kemudian mati. Pada 1999 pemerintah B.J. Habibie ingin menghidupkan jalur ini, namun terhambat adanya perang di Aceh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kini selembar rencana telah digelar. Sedianya, pembangunan akan dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah membangun rel dari Langsa ke Langkat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selanjutnya, digarap jalur Langsa sampai ke Lhok Seumawe, Aceh Utara. Terakhir, baru dibangun rute Lhok Seumawe hingga ke Banda Aceh. Total dana yang dihabiskan diperkirakan Rp 7 triliun lebih.<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menurut Direktur Jenderal Perkeretaapian, Soemino Eko Saputro, kelak kereta api yang digunakan berkecepatan 160 kilometer per jam. Langkat-Banda Aceh, yang selama ini dengan bus butuh waktu 9 jam, bisa ditempuh sekitar 3 jam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saat ini Prancis dan Bank Dunia sedang menggalang dana untuk pembangunan jalur itu, dan pada 2007 pembangunan baru akan berderak. Stasiun Ule Lheu, juga stasiun lain di Aceh, akan dibangunkan dari tidur sunyinya selama hampir 30 tahun. </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=41&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/akhir-sebuah-tidur-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Sang Penggali Kubur</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/kisah-sang-penggali-kubur/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/kisah-sang-penggali-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 14:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Abdul Madjid mengistirahatkan setiap jenazah kepada asalnya: tanah dan debu di liang lahat. Ketika malam turun di pemakaman di Siroen, Lambaro, selalu terdengar lolongan anjing, seolah mereka tengah berdiskusi. Disertai angin malam yang dingin, dan sunyi yang mencekam, gambaran film horor itu seolah hadir di kawasan Aceh besar pasca-tsunami. Pada saat itulah, Abdul Madjid menyalakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=38&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Abdul Madjid mengistirahatkan setiap jenazah kepada asalnya: tanah dan debu di liang lahat.</span></em><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></em></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketika malam turun di pemakaman di Siroen, Lambaro, selalu terdengar lolongan anjing, seolah mereka tengah berdiskusi. Disertai angin malam yang dingin, dan sunyi yang mencekam, gambaran film horor itu seolah hadir di kawasan Aceh besar pasca-tsunami. Pada saat itulah, Abdul Madjid menyalakan senter, lalu mengarahkan cahaya ke kerumunan anjing itu. Ia terperangah. Anjing-anjing itu berkelahi memperebutkan tulang-belulang manusia!</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Abdul menghardik. Mereka tak peduli. Setelah dilempari batu, barulah anjing-anjing itu kabur. Abdul memungut kembali tulang yang berserakan, lalu dikumpulkan dengan alas daun pisang. Pada malam yang sunyi itu ia menguburkan tulang-tulang tersebut. Sendirian. Tapi kawanan anjing tadi berhasil membawa kabur dua tulang kaki, dua tulang tangan, dan satu tengkorak kepala.<span id="more-38"></span></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Peristiwa Sabtu malam itu, dua pekan setelah tsunami menggulung Banda Aceh, terjadi di kuburan massal korban tsunami yang terletak di Siroen, Lambaro, Aceh Besar. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lima</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> puluh ribu orang dimakamkan di situ, tapi penjaganya cuma Abdul Madjid seorang diri. Pria berusia 48 tahun ini ikut membantu penguburan sejak awal. ”Tiga jam sekali, ada jenazah masuk,” kata Abdul kepada Tempo, yang menemuinya pada awal bulan ini.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sejak malam pertama, kawanan anjing sudah mengincar kuburan ini. Anjing-anjing itu asyik berebut daging, juga tulang-tulangnya. Abdul sedih. Ia lalu berinisiatif ronda malam seorang diri. Tak cuma kuburan itu yang aman, warga pun merasa sentosa. Maklum, banyak orang yang ngeri dengan kuburan massal itu. Sang istri bahkan sempat menjauh. ”Setiap pulang, baju dan ba-dannya bau mayat,” Aisyiah mengisahkan kegiatan suaminya. Untung, Aisyiah kini tak takut lagi. Yang dia cemaskan cuma biaya hidup rumah tangga. Sebab, pekerjaan menjaga kuburan ini gratisan. Kalaupun ada yang membayar, sifatnya sukarela.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Abdul Madjid sempat berinisiatif menaruh dua celengan di sisi kiri-kanan makam. Maksudnya agar para pezirah menaruh duit di dalamnya. Duit itu kemudian dipakai Abdul Madjid untuk membeli karpet plastik, sapu, dan berbagai peralatan bersih-bersih lainnya. Sisa uang diserahkan ke Masjid Batul Izzati, yang berada di seberang jalan. Tapi Abdul justru dituduh makan uang kuburan itu. ”Padahal, demi Tuhan, saya tidak melakukannya,” katanya sedih. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karena asap dapur seret mengepul, ia akhirnya menjual sapinya yang laku Rp 2,4 juta. Sapi itu adalah upah atas pengembalaan hewan ternak salah seorang warga. Dan hanya itu harta Abdul Madjid satu-satunya. Uangnya sudah habis pula untuk berobat sang istri yang didera penyakit jantung. </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kisah sedih seakan terus menguntit Abdul Madjid. Rumah tinggalnya dihancurkan karena pemilik tanah tak lagi memberikan izin menetap di situ. Dalam keadaan mabuk si tuan tanah ini mengusir keluarga Abdul Madjid. Kini, bersama keluarga, Abdul menetap di bekas kandang sapinya dengan perbaikan seadanya.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Hidup susah itu tak membuatnya meninggalkan kuburan massal yang dia anggap sebagai kewajibannya sebagai warga. Jiwa-jiwa di situ seakan terus memanggilnya. Hingga kini ritual ini sudah bagian dari napasnya: mengitari kuburan, mengusir anjing yang berebut daging manusia, lalu menguburkan tulang-tulang yang berserakan. Sendirian. Di kegelapan malam. ”Saya ingin mencari pintu taubat di sini,” katanya sembari menerawang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kini kuburan yang dulu gersang itu tampak hijau. Abdul Madjid menanaminya dengan kembang sepatu, serunai rambat, bunga raya, dan pohon pepaya. Saban malam ia berada di situ. Sempat sepekan ia absen. Tapi itu karena ia diserang diare berat. Tapi selebihnya ia adalah penjaga yang setia.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=38&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2008/12/26/kisah-sang-penggali-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>White Giant in the Aceh Sea</title>
		<link>http://senjatakata.wordpress.com/2006/08/04/no-title/</link>
		<comments>http://senjatakata.wordpress.com/2006/08/04/no-title/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Aug 2006 05:38:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>senjatakata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://senjatakata.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Tempo Magazine Friday, August 4, 2006 ONE-year-old Ihsan was almost motionless, his head stuck to the chest of his mother, Sapiah. His mother stroked his forehead carefully. Ihsan&#8217;s head weighed no less than 5 kilograms. Hydrocephalus was the reason for his condition. &#8220;He got it from the womb,&#8221; said the 30-year-old woman, drawing back the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=26&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0       MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]-->Tempo Magazine</p>
<p class="MsoNormal">Friday, August 4,  2006</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">ONE-year-old Ihsan was almost motionless, his head stuck to the chest of his mother, Sapiah. His mother stroked his forehead carefully. Ihsan&#8217;s head weighed no less than 5 kilograms. Hydrocephalus was the reason for his condition. &#8220;He got it from the womb,&#8221; said the 30-year-old woman, drawing back the head cover of her baby boy.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">The housewife from Masjid Raya, Samalanga, Bireun had tried various ways to relieve the pain plaguing her child. However, all the hospitals she had visited were unable to conduct surgery and she was losing hope.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span id="more-26"></span>&#8220;From Bireun I was referred to Banda Aceh, from Banda Aceh to the Adam Malik  Hospital, Medan, but they could not help,&#8221; lamented Sapiah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><!--more-->On Sunday last week, Sapiah was 3 miles off Banda Aceh. There, United States Naval Ship (USNS) Mercy was moored. Sapiah tried her luck on the hospital ship, 300 meters long and 350 meters wide. Ihsan was promptly diagnosed that afternoon.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">&#8220;I&#8217;m very glad to get free treatment here. I hope Ihsan will recover,&#8221; said Sapiah before the American medical team called her name.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sadly, Sapiah&#8217;s hopes were dashed the next morning. She had to pack up, go by boat onshore and leave USNS Mercy. &#8220;They (USNS Mercy personnel) said there was not enough time,&#8221; explained Sapiah.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">The ship in fact did not stop long in Banda Aceh, only for eight days. Thereafter, the vessel, sailing at a speed of 17.5 knots, was scheduled to proceed to Kupang, Simeulu, Nias and Tarakan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">This was not the first time the USNS Mercy has operated in the tsunami-stricken region. Eighteen months ago, when Aceh was struck by the deadly waves, the ship with 500 to 600 medical staff operated on more than 100 patients. &#8220;They were mostly bone operations,&#8221; said Croft, a medical officer. And during that mission, it is estimated that more than 107,000 patients received treatment in one form or another.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">On the first day of its second call, there were at least 29 patients with various complaints, from bone fractures to cases similar to that of Ihsan. Boats moored at Ule Lheu transported the sick.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">&#8220;They came from Central Aceh, Bireun, Pidie, Banda Aceh and several other regencies,&#8221; said Paul Dilon, a press officer of the International Organization of Migration (IOM), the NGO that carried first-batch patients.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">According to First Marshal A. Hidayat, head of medical staff at Indonesian Military HQ, USNS Mercy has no plan to call at Pangandaran, West  Java, which was recently hit by a tsunami, because its administrative structure was not devastated to the extent suffered by Aceh.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Though owned by the US military, this giant vessel is painted white rather than in camouflage. The ship, the size of three football fields, has a helipad. With seven floors, a 20-people-capacity lift is available besides corridors 3 meters wide.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">&#8220;This ship is unique and sophisticated,&#8221; said B. Lynn Pascoe, US Ambassador to Indonesia. He was not boasting. The former tanker even has a hangar for choppers in addition to a medical storehouse and a laboratory.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Another facility is a ward with 250 beds. Under peak conditions, the number of beds can be increased to 1,000 units. More than that, the giant&#8217;s belly also contains a radiology room and 12 operating theaters. The medical services provided include optometry screenings, eyewear distribution, physical therapy, radiological and laboratory services, dermatology, urology, general and plastic surgery, dental treatment as well as immunizations. However it is the CT Scan equipment having the ability to detect diseases which is probably the boat&#8217;s most valued feature.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">There are also 20 post-surgery beds and 80 couches for intensive-care patients.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Wells, another medical officer, said a CT Scan examination would take only 10 minutes to explore the whole body. Its picture can be directly transferred to all rooms. &#8220;It&#8217;s fast. The picture can be sent to San   Diego right away,&#8221; said Mendoza, a radiological officer.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Although the Mercy is primarily a medical ship, it is equipped with weapons. Its bow has an automatic gun. On the port and starboard decks two other guns can be found. That afternoon, two American women marines manned the guns.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Since it left San Diego five months ago, for its operational costs the floating hospital, modified from a tanker in 1986, has spent US$22 million to US$28 million.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">This time, besides its public health service, USNS Mercy also undertook a technology transfer program for medical personnel of the Zainoel  Abidin Hospital, Banda Aceh, and the Iskandar Muda  Regional Military  Hospital.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">According to Navy Lt. Col. Heri Priyatna, 13 members of Indonesia&#8217;s naval medical team joined the training in hopes of long-term benefits for the participants and their communities. &#8220;We learned a lot of technology as we are left far behind by other countries,&#8221; said Heri. &#8212; (Maimun Saleh)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/senjatakata.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/senjatakata.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/senjatakata.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/senjatakata.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=senjatakata.wordpress.com&amp;blog=5617081&amp;post=26&amp;subd=senjatakata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://senjatakata.wordpress.com/2006/08/04/no-title/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d5034c1e6f1e2bbeb2a0afec6f9c2829?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">senjatakata</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
